Sebuah catatan dari masa lalu
Degupan jantung
terdengar sesaat setelah aku membaca sebuah buku yang akan kuhabiskan
lembarannya di minggu ini. Banyak yang disimpan di dalam pikiran tapi stuck seketika
dalam hitungan detik. Toilet yang dipercaya untuk mengumpulkan materi serta ide
untuk menulis, sudah menjadi suatu hal yang kuyakini setiap harinya. Tanpa sadar
aku memunculkan sebuah paragraf indah di dalamnya, tapi ketika sudah keluar,
aku tidak buru-buru menuangkannya ke dalam tulisan sehingga sirna dimakan
waktu. Itulah yang kusayangkan akhir-akhir ini. Sangat random, tapi aku yakin
di luar sana ada beberapa orang yang bisa relate terhadap fenomena
sederhana ini.
Semalam aku
menyusuri sorotan di media sosial salah satu penulis yang karyanya sudah kubaca
sejak menginjak di Sekolah Dasar. Cara ia menyampaikan ketertarikan terhadap
suatu musisi yang aku juga menyukainya sangatlah artistik, penuh dengan bahasa
sastra yang kerap kali kulewatkan untuk diterapkan. Hal tersebut bisa ia
lakukan karena sudah akrab dengan literasi. Seorang penulis biasanya tidak
lepas dari sumber literasi yang bisa menjembatani dirinya untuk menuliskan
karya-karyanya. Kini kusadari, trend yang sempat membumi di kalangan bocah
sekolah dasar berdampak positif terhadap masa depan mereka. Tren tersebut adalah
buku Kecil Kecil Punya Karya. Aku ingat betul bagaimana diriku diantar oleh Abi
menuju toko buku pinggir jalan yang biasa kami kunjungi atau di salah satu
pusat perbelanjaan yang kini keberadaannya sudah tiada. Aku sedih, sangat sedih
ketika mendengar kabar bahwa toko buku tersebut sudah dinonaktifkan.
Saat itu sangatlah
ramai ketika teman-teman sebayaku memamerkan koleksi buku-buku KKPK serta
beberapa dari mereka memiliki buku edisi terbatas, wah aku sangat iri saat itu.
Tidak kusangka, dengan pengalaman seperti itu yang dimana pada masa sekarang
kebanyakan anak sebaya sepertiku saat itu lebih memilih untuk bermain gadget
ketimbang menelusuri kata demi kata didalam sebuah buku. Kebiasaan untuk
membaca buku tersambung ketika aku menginjak usia belasan tahun. Dengan dukungan
tempat menimba ilmu yang membatasi kami membawa gadget dan perantauan jauh dari
rumah serta orangtua, hal yang bisa menghibur kami salah satunya adalah buku. Aku
sangat ingat bagaimana diriku menghabiskan waktu ketika halangan dan teman-teman
yang lain sedang menjalankan ibadah di mushola, kuarungi seubah karya islami
yang melatarbelakangi seorang pemuda yang mendekati kata sempurna dengan
ketidaksempurnaan perjalanan hidupnya. Buku tersebut bisa kuhabiskan dalam beberapa
hari dengan total 706 halaman.
Kini ketika
smartphone dengan mudah diakses serta laptop yang menjadi penyokong untuk explore
tentang kegemaran yang sudah teralihkan, semakin menjauhkanku dari kebiasaan
membaca buku. Kini diusia dua puluhan baru sempat ku teruskan hal tersebut. Kata
orang, tidak ada yang terlambat, maka kuputuskan untuk menghabiskan masa dewasaku
untuk upgrade pembendaharaan kata yang sangatlah bertolak belakang
dengan usiaku saat ini, terkadang aku malu sendiri melihat caption gaya
bahasaku yang masih seperti bocah ingusan yang kerjaannya hanya jajan di
warung. Hahaha, tapi kuakui hal tersebut kerap kali mengganggu pikiran sehingga
memaksaku untuk membaca buku. Ketika membuka beberapa halaman, akupun terlelap
menyusuri mimpi singkat.
Aku kesal, mengapa
hal yang sangat kuminati ketika masa remajaku harus dirampas oleh jejeran gadget
yang pengaruh positifnya hanya seberapa dibandingkan kegiatanku saat itu. Setelah introspeksi diri seiring bertambahnya umur serta pengalaman
yang membentuk diriku menjadi pribadi yang menuju kata dewasa, yang menjadi
kendala adalah diri sendiri. Pusat pengendalian diri serta kesadaran yang bisa
memastikan adalah diri sendiri. Kini perlahan kutelusuri beberapa buku yang
sudah kubeli untuk mengasah pemikiran kritik serta kemampuan open-minded yang
masih sangat minim ini. Ku bersyukur masih diberi kesempatan untuk membeli buku.
Komentar
Posting Komentar