Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Bahasa asaku

Gambar
LindungNya menyejukkan jiwa Tatapan itu tak Pernah terbalas Karena tak pernah mencoba menatap Senyuman sekilas bukan untuk siapa Mata tak sengaja menangkap Sejukan jiwa yang hampa Langkah terus melaju tak henti Mengejar asa satu tujuan Menjadi diri yang apa adanya Tak berharap digubris oleh lawannya Seperti sebuah cerita kuno yang menarik Sudah lama terpendam tetap di hati Entah apa jawaban Tuhan? Jatuh itu sesuatu yang wajar Diamlah saksi bisu memperhatikanmu Menengadah tangan untuknya Sang Agung itu pembeli pilihan terbaik Tak menjadikan ku dan mu di satu Tapi dua yang saling bersatu Diri yang merasa, entah yang disana Yang membuat hati ini jatuh Entah tepat pada tempatnya Atau mungkin ditempat yang lain Yang telah tercantum di Lauhul Mahfuz

Rintik hujan ditempat suci

Gambar
Bahagia itu sederhana dan nyata Hanya melihat sekeliling, kita bisa merasakan NikmatNya yang tiada tara serta tandingannya Sebenarnya, apa yang menyibukkan manusia Sehingga lupa untuk selalu mengingatNya? Padahal sangatlah berharga waktu yang manusia habiskan di dunia ini Apa susahnya lisan ini untuk mengucapkan kata-kata indah tentangNya? Apa susahnya fikiran ini untuk selalu berpacu pada satu tujuan, yaitu mencapai RidhoNya? Jujur,,, Tak kuat berada disekeliling euang lingkup yang memaksa untuk bersandiwara selama ini Selama menahan sakitnya jauh dari Sang Khalik Inikah yang dirasakan mereka dahulu kala? Disaat kemunafikan manusia yang merajalela Hanya hari yang bisa berkata.. Lisan apalah guna jika tidak didengar maupun diterima Hanya perlu bersabar,, tabah,, tunduk,, Jaga lisan itu sulit, lisan itu bisa membunuh pemiliknya Bahkan bisa memasukkan manusia kedalam kesengsaraan yang berketerusan. ~ Hujan sore ~ Kamis, 08 Desember 2016

Ketika masih gemar menulis

Gambar
Selasa, 06 Desember 2016 Kukirim doaku untukmu Tak hentinya kupanjatkan untukmu Sang Rabb lah yang memutuskan segalanya Mungkin Sang Rabb telah kecewa Atau sebagai penggugur dosa Janganlah berhenti bermunajat kepadaNya Sebagai tanda rasa syukur tak terhingga Dibawah cahaya sang rembulan Terpaan angin menghadang tubuh ini Getir mendengar apa yang terjadi Walau hanya sebatas hal biasa terjadi Tapi mengapa hati ini terasa tak tenang Memikirkan masa depanmu menataplah Masa depanmu ada ditanganmu, bukan ditanganku Apalah aku hanya sebatas rangkaian doa Yang mendoakanmu disetiap langkahmu Kuharap kau bisa memiliki apa yang seharusnya menjadi milikmu B ukan milikku pun tak apa Asalkan hati bisa menjawab semua

celoteh dikala itu

Merindu itu bukan perkara mengadu Merindu itu sebagai bukti nyata yang satu Satu sama lain menjadi hiasan kalbu Kamu, salah satu sekian banyak dari rinduku Ingin menjadikanmu teman hidupku Tapi asaku gapaimu, belum sesempurna agamamu - Jogja, 19 Oktober 2019