Sebuah catatan dari masa lalu
Degupan jantung terdengar sesaat setelah aku membaca sebuah buku yang akan kuhabiskan lembarannya di minggu ini. Banyak yang disimpan di dalam pikiran tapi stuck seketika dalam hitungan detik. Toilet yang dipercaya untuk mengumpulkan materi serta ide untuk menulis, sudah menjadi suatu hal yang kuyakini setiap harinya. Tanpa sadar aku memunculkan sebuah paragraf indah di dalamnya, tapi ketika sudah keluar, aku tidak buru-buru menuangkannya ke dalam tulisan sehingga sirna dimakan waktu. Itulah yang kusayangkan akhir-akhir ini. Sangat random, tapi aku yakin di luar sana ada beberapa orang yang bisa relate terhadap fenomena sederhana ini. Semalam aku menyusuri sorotan di media sosial salah satu penulis yang karyanya sudah kubaca sejak menginjak di Sekolah Dasar. Cara ia menyampaikan ketertarikan terhadap suatu musisi yang aku juga menyukainya sangatlah artistik, penuh dengan bahasa sastra yang kerap kali kulewatkan untuk diterapkan. Hal tersebut bisa ia lakukan karena sudah akrab d...